Ngopi . Diskusi . Solusi

Mahasiswa Dan Momen

Dalam situs cahyobudisantoso.blogspot.com dikatakan bahwa Momen adalah Salah satu hal yang tidak mungkin terlupakan dan yang paling berkesan. kemudian secara umum momen di maknai sebagai satu kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan – kegiatan tertentu dan sebagainya yang akan berbeda nilainya dengan hari-hari biasanya. Banyak orang menunggu waktu – waktu tertentu yang mereka anggap itu merupakan waktu yang sangat spesial baik secara Budaya bahkan sampai pada hal yang berbau politik. Tak jarang mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari apa yang akan dilakukan jika waktu/momen tersebut tiba nantinya. Bahkan ada yang menganggap jika momen yang sudah lama di tunggu-tunggu kedatangannya tidak dimaknai dengan antusias maka hal itu akan menimbulkan sikap yang seakan-akan telah merugikan diri sendiri ataupun khalayak ramai.

Berbicara momen maka mahasiswa merupakan salah satu makhluk yang paling sering menantikan momen-momen tertentu untuk bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baik mungkin menurut penilaian mereka, contoh seorang petinggi kampus ( Mahasiswa ) jika mendapatkan info bahwa ada pejabat A berada di daerah,maka ia bergegas mencari informasi dimana ia bisa menjumpai sang pejabat. Tujuannya untuk apa? Bermacam-macam tujuan bisa saja terjadi, ada yang ingin silaturrahmi, ada yang ingin supaya sang pejabat bisa menghadiri kampus tempat ia kuliah bahkan ada yang bermain dibawah tangan. Tak jarang kita menyaksikan momen-momen tertentu tersebut bisa menjadi lading basah untuk setiap tujuan yang diinginkan. Contoh lain misalnya, Beberapa waktu yang lalu daerah A baru saja melaksanakan pesta demokrasi, hasilnya terpilihlah kepala daerah beserta dengan wakilnya setelah melalui pertarungan yang sengit,bahkan diluar logika manusia.


Lalu, Setelah dilantik , sudah jadi kebiasaan bahwa ada 100 hari masa kerja untuk menujukkan keperkasaan sang pemimpin dalam menjalankan amanat rakyatnya. Kemudian mahasiswa menjadikan hal tersebut sebagai momen untuk menujukkan bahwa mahasiswa adalah jembatan masyarakat untuk menggugat sang pemimpin. Caranya bermacam-macam, ada yang penyampaiannya dengan diskusi publik dengan menghadirkan pakar-pakar yang berkompeten dibidangnya atau hanya sekedar diskusi di warung kopi bersama elemen mahasiswa dari kampus-kampus lainnya, ada yang cara penyampaiannya berupa audiensi dengan pejabat terkait hingga cara yang terakhir yaitu dengan menurunkan masa dan berorasi dijalan raya atau istilah kasarnya melakukan demonstrasi.

Namun satu hal yang sangat menarik dalam memanfaatkan momen-momen tertentu tersebut, dalam kondisi yang semestinya lebih mengutamakan kepentingan bersama ia memanfaatkan momen tersebut untuk mengekploitasi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Misalkan ketika media masa sedang gencar-gencarnya meliput kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa, maka ia muncul dengan memberikan pendapat-pendapat atau bahkan gertakan sambal yang seharusnya bukan wewenang dia untuk menyampaikan hal tersebut, artinya ada udang di balik batu. Disaat teman-temannya yang lain sibuk berorasi dengan toa hingga mulutnya berbusa, ia hanya duduk diam seolah tidak mau tahu dengan apa yang terjadi, padahal sebelumnya disaat perencanaan ia yang lebih garang dalam berpendapat.

Perlu kita sadari, memanfaatkan momen – momen tertentu itu sangat baik tidak terkecuali dalam mengawasi setiap kebijakan publik yang akan berdampak pada orang banyak, sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita ikut memantau setiap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat jelata. Terlepas dari benar atau tidaknya, hari ini mahasiswa masih dipandang sebagai kaum intelektual muda yang mampu membela kepentingan masyarakat banyak tanpa ada unsur kepentingan. Hari ini rakyat masih haqqul yakin bahwa mahasiswa masih mampu mengawal setiap kebijakan yang melenceng demi kepentingan rakyat jelata.
Tapi pertanyaannya masih pantaskah itu diyakini secara murni? Jawabannya bisa ia bisa juga tidak. Jika kita melihat kepada contoh diatas, mungkin perlu kiranya kita berpikir ulang untuk mempercayai mahasiswa masih murni dari setiap kepentingan. Tapi jika kita melihat dari sisi lain, saya haqqul yakin bahwa hari ini masih terdapat mahasiswa yang putih bersih dari kepentingan, walaupun kita menyadari setiap manusia memiliki sisi kekurangannya masing-masing,tapi setidaknya sifat tersebut bisa diminimalisirkan.

Tapi semua itu terserah kepada kita mahasiswa, mau dibawa kemana keparcayaan masyarakat yang sudah terlanjur diberikan kepada kita. Kalau pada 1908 adanya Organisasi budi utomo Wadah ini merupakan bentuk sikap kritis mahasiswa tersebut terhadap sistem kolonialisme Belanda yang menurut mereka sudah selayaknya dilawan dan rakyat harus dibebaskan dari bentuk penguasaan terhadap sumber daya alam yang dilakukan oleh penjajah terhadap bangsa ini, terlepas dari bermacam penilaian yang ada terhadap organisasi ini,tapi ini menunjukkan adanya sikap kritis mahasiswa demi kepentingan Bangsa. Kemudian pada 1998 gerakan mahasiswa mampu menumbangkan rezim Orde Baru yang korup dan semena-mena, yang kemudian bisa merubah wajah Bangsa ini seperti yang kita rasakan sekarang, serta berbagai pergerakan – pergerakan mahasiswa lainnya yang di wujudkan demi kepentingan rakyat, maka pada hari ini tugas kita untuk mengawal setiap kebijakan yang ada dan apa yang telah di capai oleh para pendahulu kita. Maka sudah saatnya kita lupakan unsur kepentingan yang tidak menguntungkan rakyat banyak. Apakah penggalan lagu “ditangan kita tergenggam arah bangsa” yang akrap ditelinga para mahasiswa tidak hanya semboyan belakan. Semoga!
Share:

No comments:

Post a Comment

Translate

FOLLOW ME ON YOUTUBE

Popular Posts