Kita seolah sudah terkena penyakit lupa, kemiskinan yang terjadi, kualitas pendidikan yang rendah, pelayanan masyarakat yang tidak maksimal seperti bukan amanah dari MoU Helsinky dan UUPA
-------------------------Muslim----------------------------
Sejak dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur
Aceh, dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sudah berulang kali melangkahkan
kakinya ke luar negeri, alasannya bisa bermacam-macam, tapi tujuannya tetap
sama, yaitu ‘memasarkan’ Aceh ke luar negeri dengan harapan para investor mau
berinvestasi di Aceh. Sebagai daerah yang baru saja selesai dengan dua sejarah
besar yaitu konflik yang lebih dari 30 tahun dan Tsunami yang menewaskan lebih
dari 200 ribu jiwa dalam hitungan jam. Sejarah itu kemudian menyebabkan kondisi
Aceh porak-poranda, dan dua sejarah itu pula yang menjadikan Aceh kembali
menjadi lirikan mata dunia setelah dulu pernah terasa ketika masa kesultanan
Aceh.
Rajinnya Pemerintah Aceh keluar negeri tersebut
belum sebanding dengan hasil yang diinginkan. Kenyataannya, tahun 2014
realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami penurunan menjadi Rp 6,56
Triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 6,59 Triliun, hal ini disebabkan
penurunan nilai investasi PMA yang pada
tahun 2013 senilai Rp 1,5 Triliun menjadi hanya Rp 331 Milyar (acehprov.go.id, 30 Januari 2015).
Realisasi tersebut belum lagi kita bandingkan dengan pengeluaran dari kunjungan
kerja anggota dewan baik secara materil maupun non materil. Sementara itu,
menurut Badan Pusat Statistik (BPS)Aceh sebagaimana dilansir serambinews.com
pada 6 Meil 2015 mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan I tahun 2015
malah merosot tajam, menurut BPS, ekonomi Aceh (minyak dan gas) tumbuh minus
2,83 persen, dan dengan migas, minus 0,52 persen, dibandingkan triwulan IV
2014. Bahkan kepala BPS Aceh, Hermanto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Aceh yang terburuk sejak tahun 2014
atau mengalami penurunan paling tajam dibandingkan provinsi lain yaitu sebesar
1,88 persen.










“Coba perhatikan akhir-akhir ini, sebagian besar mahasiswa sudah vakum, padahal mereka sadar bahwa kondisi Aceh yang semraut seperti ini ”,
kalimat tersebut dilontarkan salah satu anggota keluarga ketika ngobrol
santai bersama keluarga sambil menyaksikan siaran televisi yang sedang
mengulas perjalan Akil Mukhtar (Ketua MK) yang sedang dililit kasus suap
dan menjadi headline hampir semua harian Nasional, bahkan media
internasional pun tak lupa untuk memberitakannya. “coba lihat, mahasiswa kita sekarang seperti kehilangan powernya” lanjut beliau.
