Ngopi . Diskusi . Solusi

  • Rumah Sakit Administrasi

    Tapi apalah daya, kita memang masih gagap dengan dunia teknologi. Ternyata bukan hanya Bank Aceh yang masih gagap teknologi.Rumah sakit kita pun rupanya begitu sulit atau jangan-jangan belum mau berinovasi. Seperti begitu sulitnya melihat mayoritas petugas rumah sakit melayani pasien dengan ramah. Kecuali satu dua orang saja...

Restorasi Meiji dan Pembangunan Aceh


Kita seolah sudah terkena penyakit lupa, kemiskinan yang terjadi, kualitas pendidikan yang rendah, pelayanan masyarakat yang tidak maksimal seperti bukan amanah dari MoU Helsinky dan UUPA
-------------------------Muslim----------------------------
 
Sejak dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sudah berulang kali melangkahkan kakinya ke luar negeri, alasannya bisa bermacam-macam, tapi tujuannya tetap sama, yaitu ‘memasarkan’ Aceh ke luar negeri dengan harapan para investor mau berinvestasi di Aceh. Sebagai daerah yang baru saja selesai dengan dua sejarah besar yaitu konflik yang lebih dari 30 tahun dan Tsunami yang menewaskan lebih dari 200 ribu jiwa dalam hitungan jam. Sejarah itu kemudian menyebabkan kondisi Aceh porak-poranda, dan dua sejarah itu pula yang menjadikan Aceh kembali menjadi lirikan mata dunia setelah dulu pernah terasa ketika masa kesultanan Aceh.
Rajinnya Pemerintah Aceh keluar negeri tersebut belum sebanding dengan hasil yang diinginkan. Kenyataannya, tahun 2014 realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami penurunan menjadi Rp 6,56 Triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 6,59 Triliun, hal ini disebabkan penurunan nilai investasi  PMA yang pada tahun 2013 senilai Rp 1,5 Triliun menjadi hanya Rp 331 Milyar (acehprov.go.id, 30 Januari 2015). Realisasi tersebut belum lagi kita bandingkan dengan pengeluaran dari kunjungan kerja anggota dewan baik secara materil maupun non materil. Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS)Aceh sebagaimana dilansir serambinews.com pada 6 Meil 2015 mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan I tahun 2015 malah merosot tajam, menurut BPS, ekonomi Aceh (minyak dan gas) tumbuh minus 2,83 persen, dan dengan migas, minus 0,52 persen, dibandingkan triwulan IV 2014. Bahkan kepala BPS Aceh, Hermanto, mengatakan pertumbuhan  ekonomi Aceh yang terburuk sejak tahun 2014 atau mengalami penurunan paling tajam dibandingkan provinsi lain yaitu sebesar 1,88 persen.
Share:

Melihat 10 Tahun Perdamaian Aceh

“adanya dominasi dari salah satu partai di Aceh saat ini tidak sehat terhadap kondisi demokrasi karena tidak terjadinya check and balance terutama menyangkut kekuatan politik di parlemen sementara partai nasional justru bersikap pragmatis”
Foto Google Image

DEKAN Fakultas Hukum Universitas Abulyatama, Wiratmadinata, SH.,M.H mengkritisi kondisi Aceh pasca 10 Tahun Perdamaian. Ia melihat, saat ini masih terjadi kemiskinan dihampir setiap pelosok Aceh meski anggaran di Aceh begitu banyak.

“Terjadi kesalahan pada perencanaan, sehingga anggaran besar belum mampu memberikan manfaat yang maksimal bagi rakyat,” ujar Wira dalam Diskusi Terbatas membahas Sinergitas Hubungan Aceh-Jakarta di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (3/9/2015)

Ia mengatakan, bahwa telah terjadi perubahan dan transformasi sosial politik sekaligus sesuai dengan kesepakatan GAM dan Pemerintah RI sebagai bagian dari “peta jalan” perdamaian Aceh, sebagai contoh dibolehkannya pembentukan partai lokal di Aceh, berdirinya Lembaga Wali Nanggroe, dibolehkannya calon independen dan dibolehkannya Aceh memiliki atribut keistimewaan, bendera, lambang serta himne telah menggambarkan kondisi perubahan dan transformasi sosial politik  tersebut.
Share:

Malam Minggu di Serambi Mekkah

Melaju santai dari Kost tercinta dengan mengendarai sepeda motor tua bersama seorang teman menuju arah perkotaan. Jalanan terasa begitu sesak, dari atas kendaraan muda mudi saling berpelukan layaknya suami istri. Maklum, malam ini malam minggu, malam panjang kata para kaula muda, sehingga harus benar-benar di nikmati. Pemandangan semakin kontras ditemani dinginnya malam, kami terus melaju santai ke arah simpang Surabaya dengan tujuan Taman Sari yang berada di pusat kota Banda Aceh, persisnya di depan kantor Walikota Banda Aceh dan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh.

     Sesampainya kami disana ternyata Taman Sari sesak dengan lautan manusia, mulai dari anak kecil, remaja hingga tua renta, akhirnya kami putuskan untuk menuju Stui, kira-kira 1 km dari taman sari, tepatnya di Dapur Ummi, sebuah warkop yang menyediakan Wifi, setelah beberapa saat berselancar didunia maya, akhirnya kami bergerak santai menyisir semrautnya kota Banda Aceh dimalam hari, terutama malam minggu.

     Akhirnya kami tiba di daerah yang sangat terkenal dengan Kopinya, ya, Ulee Kareng, sentralnya Warung Kopi Aceh. Entah salah alamat atau tidak, dengan pakaian kemeja yang biasa saya gunakan untuk pergi kekampus dan untungnya bawahan yang ku kenakan  Jeans pudar warisan abang ku yang nomor dua-Sebagai anak kos aku termasuk orang yang kurang serius untuk berleha-leha dengan pakaian baru, yang penting menutup aurat-itu bukan suatu masalah yang penting jeans, ketimbang teman saya dengan balutan kemeja lusuh warna hitam di badannya plus celana kain hitam mirip pengunjung pemakaman. Tapi tak soal, seperti kata ku tadi, malam minggu harus dinikmati.

Share:

Sumpah Pemuda, Pemuda di Sumpah?

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia
Kalimat diatas tentu tidak asing lagi dalam memori kita. Ya, sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 atau tepatnya 85 tahun yang lalu, Sumpah yang di ikrarkan di jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat tersebut telah menjadi catatan emas dalam sejarah perjuangan untuk menyatukan organisasi pemuda dan sebagai pengakuan atas bangsa Indonesia yang di lakoni oleh pemuda-pemuda kala itu. Rumusan Sumpah Pemuda yang dihasilkan dari konggers Pemuda II itu hingga kini masih diperingati setiap tahunnya.
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan sebagainya, serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Share:

Mahasiswa Dan Momen

Dalam situs cahyobudisantoso.blogspot.com dikatakan bahwa Momen adalah Salah satu hal yang tidak mungkin terlupakan dan yang paling berkesan. kemudian secara umum momen di maknai sebagai satu kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan – kegiatan tertentu dan sebagainya yang akan berbeda nilainya dengan hari-hari biasanya. Banyak orang menunggu waktu – waktu tertentu yang mereka anggap itu merupakan waktu yang sangat spesial baik secara Budaya bahkan sampai pada hal yang berbau politik. Tak jarang mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari apa yang akan dilakukan jika waktu/momen tersebut tiba nantinya. Bahkan ada yang menganggap jika momen yang sudah lama di tunggu-tunggu kedatangannya tidak dimaknai dengan antusias maka hal itu akan menimbulkan sikap yang seakan-akan telah merugikan diri sendiri ataupun khalayak ramai.

Berbicara momen maka mahasiswa merupakan salah satu makhluk yang paling sering menantikan momen-momen tertentu untuk bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baik mungkin menurut penilaian mereka, contoh seorang petinggi kampus ( Mahasiswa ) jika mendapatkan info bahwa ada pejabat A berada di daerah,maka ia bergegas mencari informasi dimana ia bisa menjumpai sang pejabat. Tujuannya untuk apa? Bermacam-macam tujuan bisa saja terjadi, ada yang ingin silaturrahmi, ada yang ingin supaya sang pejabat bisa menghadiri kampus tempat ia kuliah bahkan ada yang bermain dibawah tangan. Tak jarang kita menyaksikan momen-momen tertentu tersebut bisa menjadi lading basah untuk setiap tujuan yang diinginkan. Contoh lain misalnya, Beberapa waktu yang lalu daerah A baru saja melaksanakan pesta demokrasi, hasilnya terpilihlah kepala daerah beserta dengan wakilnya setelah melalui pertarungan yang sengit,bahkan diluar logika manusia.
Share:

Yang (akan) Hilang

Bayi itu kini telah tumbuh dewasa, penuh semangat dan harapan. Saifun, begitu ia akrab dipanggil, bayi yang tak pernah melihat seperti apa wajah sang ayah apalagi bercanda ria bersamanya. Ya, Tahun 2001 menjadi tahun yang tak terperikan baginya dan sekeluarganya. Tahun yang dihiasi dengan air mata dan duka. Betapa tidak, saat itu sang ayah pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali. Sebenarnya bukanlah kepergian sang ayah yang tak kunjung kembali itu yang disesalinya tapi kenapa harus dengan cara seperti itu?

Ceritanya begini, saat itu  seseorang mengirim pesan bahwa seorang teungku (panggilan ustaz bagi orang Aceh ) meminta untuk menjumpainya, memang nama sang teungku sangat familiar dikalangan masyarakat daerah itu karena dikenal dengan kealimannya. Tanpa ragu sedikitpun sang ayah memenuhi panggilan itu, melewati gunung dengan menempuh waktu seharian penuh berjalan kaki, saat itu situasi Aceh sudah dalam konflik, walau status darurat militer baru diterapkan pada tahun 2003 namun Aceh sudah dalam kubangan konflik yang tak bisa dianggap sepele, sehingga melewati jalan perkotaan sangat mustahil dilakukan. Sang ayah terus memacu langkah untuk menjumpai sang teungku, namun hari berganti hari setelah kepergiannya, sang ayah tak kunjung kembali, berikutnya dikabarkan bahwa perjalanan itu tak pernah diminta oleh sang teungku dan itu hanya pesan yang tak “bertuan”, tahun pun sudah berganti hingga akhirnya dalam sebuah firasat mimpi disampaikan bahwa sang ayah telah tiada, firasat itu disahihkan oleh beberapa saksi yang dapat dipercaya, bahwa sang ayah telah dihilangkan secara paksa oleh sekelompok orang yang terlibat dalam konflik Aceh. Walau kini Saifun telah duduk dikelas satu Sekolah Menengah Atas (SMP) namun tak pernah diketahui siapa pelakunya.
Share:

Penjilat VS Pembohong



Tulisan ini bermula saat saya bersama teman-teman duduk santai di seputaran kampus Universitas Abulyatama Aceh, awalnya kami hanya berdua, beberapa saat kemudian seorang yang patut dihormati  (seharusnya seperti itu ) ikut gabung bersama-sama dengan kami.

Suasana diskusi ( jika boleh dikatakan begitu ) berjalan lancar dan hangat, mulai dari canda- tawa hingga kemudian permasalahan-permasahan yang ada dikampus juga ikut menjadi title diskusan ( diskusi santai ). “Orang ini maunya jalan sendiri, coba semua elemen mahasiswa di ajak” begitu kira-kira kalimat dari orang yang seharusnya dihormati tadi,diskusi pun terus berjalan,berbagai hal diungkapkan mualai dari sedikit jampok ( membangga-banggakan diri ) hingga carita bohong yang tak masuk akal.Kemudian beliau melanjutkan “jangan unjuk gigi disini, ini kampus swasta, bisa-bisa dikeluarkan”.blukkkk….aku kaget mendengarkan kalimat terakhir yang keluar dari mulut beliau,bukan kaget karena itu kalimat menkajubkan yang keluar dari mulut seorang filsuf atau sebuah sajak yang keluar dari mulut seorang pujangga yang bisa menggugah hati tapi ini kalimat Penjilat VS Penakut dari seorang yang jika dilihat jejak rekam perjalanan beliau dikampus luar biasa ( dulunya saya pikir,ternyata tidak ).
Share:

Ada Apa dengan Mahasiswa Saat ini?

images1“Coba perhatikan akhir-akhir ini,  sebagian besar  mahasiswa sudah vakum, padahal mereka sadar bahwa kondisi Aceh yang semraut seperti ini ”, kalimat tersebut dilontarkan salah satu anggota keluarga ketika ngobrol santai bersama keluarga sambil menyaksikan siaran televisi yang sedang mengulas perjalan Akil Mukhtar (Ketua MK) yang sedang dililit kasus suap dan menjadi headline hampir semua harian Nasional, bahkan media internasional pun tak lupa untuk memberitakannya. “coba lihat, mahasiswa kita sekarang seperti kehilangan powernya” lanjut beliau.
Saya hanya tersenyum mendengar kalimat sindiran tersebut tanpa mencoba memberikan pembelaan dengan argument-argumen yang mungkin bisa saya sampaikan. Jam menunjukkan 00.00 wib waktunya istirahat. Namun kalimat tadi seakan mengahantui pikiran hingga saya mencoba mengingat-ngingat perjalanan saya selama ini, membandingkan dari setiap diskusi yang saya lakukan ; baik itu dikos, kampus ataupun warung-warung kopi. Sebenarnya yang menjadi persoalan bukan karena sindiran tadi, tapi lebih kepada rasa ingin tahu saya tentang penyebab vakum tersebut, meski tuduhan itu tidak semuanya benar karena saya yakin masih banyak mahasiswa yang peduli dengan kondisi daerahnya, tapi rasanya juga tidak munafik bahwa kondisi itu juga benar adanya.
Share:

SBY Tunggu Wali di Istana?

Aceh seolah tak pernah kehabisan sensasi, mulai dari perang ratusan tahun melawan penjajahan Belanda, hingga perang saudara selama lebih dari tiga dekade. Tak cukup disitu, Tsunami meluluh lantakkan bumi seuramoe meukah, wanita-wanita menjadi janda, para suami kini berstatus duda, anak-anak menjadi yatim-piatu, sekian banyak rakyat Aceh jatuh miskin. Namun hikmah tak pernah lepas dari setiap musibah, akhirnya GAM menanda tangani perdamaian dengan pihak RI, Rakyat Aceh pun bermimpi memulai hidup baru dengan status baru tersebut, tak cukup itu, pemerintah Aceh pun bersuara nyaring “Kita akan menciptakan kondisi Aceh yang maju, sejahtera, adil dan bermartabat”.

Paska damai, dua periode kepemimpinan sudah berlalu, Mengutip judul berita disalah satu tabloid Lokal Aceh ; dari dokter hewan alias Irwandi Yusuf hingga dokter manusia alias Zaini Abdullah nasib Aceh tak juga menentu. Kini, Aceh kembali menjadi perbincangan publik dengan Wali Nanggroe-nya. dari anggaran yang melimpah hingga wali yang disumpah serapah.
Share:

Faktor Emas

26 Maret 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh, maklumat itu pula secara resmi menandakan perang Aceh dimulai. Dengan membawa 3.198 tentara dimana 168 diantaranya adalah perwira, Johan Harmen Rudolf Kohler sebagai panglima mendarat di pantai Ceureumen, Ulee Lheue pada 5 April 1873. Saat itu pula Jendral Kohler tewas ditangan mujahidin Aceh. Secara umum perang Aceh disebabkan karena Belanda ingin menguasai Aceh yang kaya akan sumber daya alam, selain itu Aceh berada dalam posisi strategis dalam lalu lintas perdagangan (wikipedia.org). Perjalanan perang yang memakan korban begitu banyak tersebut tidak lepas dari bau-bau pengkhianat dalam tubuh rakyat Aceh itu sendiri. Mungkin kita sering menonton film Cut Nyak Dhien yang di sutradarai oleh Eros Djarot, dalam film itu mengisahkan pengkhianatan seorang Leubeh terhadap Aceh hanya demi kepingan-kepingan emas (uang dan fasilitas) dari Belanda, sehingga ia rela mengorbankan bangsanya demi hidup bermegah-megahan dengan harta pemberian Belanda. Sehingga musuh dengan mudah menyerang persembunyian pejuang Aceh. Saat itu pula “emas” telah membutakan mata hatinya.
Share:

Translate

FOLLOW ME ON YOUTUBE

Popular Posts