![]() |
| Foto : Google Image (oleh admin dikombinasikan) |
Beberapa
waktu yang lalu, Indonesia gegap gempita dengan kabar kedatangan Baginda Raja
Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud. Media cetak, online dan elektronik bahkan tidak
henti-hentinya memuat berita tentang kedatangan Raja yang dijuluki Khadimul Haramain atau Penjaga dua
kota suci tersebut, mulai dari persiapan menjelang kedatangan hingga setelah
Raja Salman pulang, semuanya seolah tak luput dari pemberitaan. Meriahnya
sambutan tentang kedatangan Raja Salman tersebut bukan tanpa ada alasan, selain
kunjungan tersebut sangat bersejarah, karena setelah 47 tahun silam baru saat
ini Raja Arab Saudi kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Tidak
tanggung-tanggung, Raja Salman membawa serta rombongan berjumlah 1.500 orang, sebanyak
25 Pengeran dan 10 menteri menjadi bagian dari delegasi “jumbo” tersebut, bahkan menurut Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia
Osama Bin Abdullah Al Shuaibi, kunjungan tersebut merupakan kunjungan terbesar
dalam sejarah kunjungan kenegaraan Arab Saudi. Kunjungan itu juga sangat
berbeda ketika Raja Faisal berkunjung ke Indonesia pada 47 tahun silam, menurut Direktur Pusat Kajian Timur Tengah UI Abdul
Mutaali, tanpa liburan, Raja Faisal saat itu berkunjung selama 4 hari kurun
10-13 Juni 1970 sebagaimana diberitakan detik.com, Rabu (1/3/2017).
Sedangkan kunjungan Raja Salman kali ini sekaligus berliburan di Bali, agenda Raja Salman tersebut langsung atau tidak
langsung diprediksi akan menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Indenesia
khususnya dari Timur Tengah, mengutip pernyataan Wapres Jusuf Kalla “Rajanya saja 9 hari disini, apalagi rakyatnya
bisa sebulan”
begitu kira-kira ungkapan optimisme JK terhadap dampak dari kunjungan Raja
Salman ke Indonesia. Senada, para pengamat pun menganggap kedatangan Raja Arab
Saudi tersebut menunjukkan bahwa Saudi Arabia sudah mulai melirik ke Asia. ini dikarenakan kondisi di Amerika dibawah kepemimpinan Presiden Trump yang proteksionis dan
Eropa yang tidak stabil ditambah harga minyak yang anjlok, membuat pemerintah
Arab Saudi berpikir untuk berinvestasi di negara-negara yang cukup kondusif dan
memiliki potensi perkembangan ekonomi yang baik, termasuk Indonesia.





