Ngopi . Diskusi . Solusi

  • Rumah Sakit Administrasi

    Tapi apalah daya, kita memang masih gagap dengan dunia teknologi. Ternyata bukan hanya Bank Aceh yang masih gagap teknologi.Rumah sakit kita pun rupanya begitu sulit atau jangan-jangan belum mau berinovasi. Seperti begitu sulitnya melihat mayoritas petugas rumah sakit melayani pasien dengan ramah. Kecuali satu dua orang saja...

Mahasiswa Aceh Kritik Kunker Dewan

BANDA ACEH – Kunjungan kerja (Kunker) yang akan dilakukan oleh beberapa Komisi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mendapat kritikan dari mahasiswa seperti yang diterima oleh redaksi AJNN. Kritikan tersebut disampaikan oleh beberapa lembaga mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se Aceh, Senat Mahasiswa UIN Arraniry Banda Aceh dan Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Abulyatama Aceh.

Pejabat Sementara (Pjs) Koordinator BEM Se Aceh, Zulkifli Bi meminta dewan untuk lebih fokus pada kondisi Aceh sekarang dari pada harus melakukan kunker ke luar negeri, Karena menurut ia masih banyak masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat aceh khususnya di sektor perekonomian.

“Tidak penting melakukan kunker, masih banyak masalah internal yang belum bisa diselesaikan seperti kasus Din Minimi, Wahabi dan butir-butir MoU yang belum terealisasi,” katanya kepada AJNN, Minggu (13/9)

Zulkifli juga menyebutkan bahwa anggaran kunker yang besar tersebut bisa dialihkan untuk pembangunan rumah dhuafa serta rumah korban konflik yang masih ada belum tersentuh.

“Angka kemiskinan di Aceh lebih tinggi dibandingkan dari tahun lalu, dan sangat wajar kalau kemudian mahasiswa dan masyarakat mengecam kunker tersebut,” imbuh Zulkifli.

Disisi lain, Sekretaris Jendela (Sekjen) Senat Mahasiswa UIN Ar Raniry Banda Aceh, Muhammad Reza Fahlevi mengatakan kunker yang dilakukan oleh dewan belum tepat untuk sekarang, karena bukan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh

“Untuk apa sibuk melakukan kunker, qanun yang sudah ada saja belum maksimal dijalankan, masih banyak permasalahan aceh yang harus segera diselesaikan,” jelasnya

Terkait agenda kunker Komisi 7 untuk melakukan Rapat Dengan Pendapat Umum (RDPU) tentang toleransi agama, Reza menjelaskan bahwa sudah cukup toleransi beragama yang berlaku di Aceh saat ini, yang ditakutkan malah akan terjadi sekularisme di aceh karena sudah terlalu toleran dalam bidang keagamaan.

“Suara Rakyat Aceh saja saat ini belum maksimal disuarakan oleh para wakilnya. Di Aceh masih sangat banyak ulama yang bisa memberikan masukan-masukan tentang hukum, jadi tidak perlu harus pergi keluar negeri,” imbuhnya

Untuk komisi 2 yang membidangi masalah Sumber Daya Alam (SDA) dan Ekonomi yang juga akan melakukan kunker, Reza menambahkan bahwa kuncinya bukan pada melahirkan produk hukum yang baru melainkan menjalankan apa yang sudah diamanatkan dalam turunan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) dan MoU Helsinky

“Cari kunci permasalahan di sana kenapa sampai sekarang turunan dari UUPA dan Qanun-qanun yang sudah dijalankan susah untuk diterapkan,” jelasnya

Sementara itu, Presiden Mahasiswa Universitas Abulyatama Aceh, Muslim meminta kepada seluruh anggota DPR Aceh untuk bisa fokus pada pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh Perubahan (APBA-P).

“Mestinya yang difokuskan DPRA sekarang adalah yang penting-penting dulu, seperi APBA-P, kemudian Rancangan Qanun Prioritas 2015 yang sampai hari ini belum bisa diselesaikan, jangan hanya sibuk memikirkan kunker saja, padahal pekerjaan rumah cukup banyak yang belum selesai,” tegas Muslim

Jika melihat alasan kunker tentang kerukunan agama, jelas Muslim, kerukunan umat beragama di Aceh sudah menjadi contoh bagi negara-negara lain, misalnya di Aceh sampai sekarang tidak pernah terjadi konflik agama.

“Kalau alasan kunker tentang kerukunan agama, ini sangat lucu dan aneh, Aceh tidak pernah konflik agama, Aceh sudah menjadi contoh tentang kerukunan umat beragama, jadi tidak perlu mencontoh negara lain,” tegasnya

Muslim juga mempertanyakan kunker yang sudah pernah dilakukan oleh DPRA. Untuk itu, Ia meminta kepada anggota DPRA untuk segera membatalkan agenda kunker keluar negeri tersebut.

“Saya belum melihat hasil dari kunker yang sudah pernah dilakukan oleh DPRA, Kami juga menantang DPRA untuk berani mempublikasikan sejauh apa efektivitas kunker yang sudah pernah dilakukan,” pintanya

Untuk itu, Muslim menilai bahwa DPR Aceh dalam tahun ini mandul karena belum mampu melahirkan produk-produk regulasi yang berpihak pada masyarakat, sehingga wajar ketika publik menilai DPR Aceh mandul

“Mereka melakukan kunker diujung tahun, kapan mau menyelesaikan qanun-qanun yang sudah diproritaskan, saya rasa mereka tidak akan mampu lagi, itu belum bicara anggaran yang dihabiskan untuk melakukan kunker, kalau kunker tetap dipaksakan, kedepan fungsi legislatif sudah bisa ditambahkan satu lagi yaitu fungsi pariwisata,” jelas Muslim dengan nada kesal.
sumber : ajnn.net
Share:

Empat PEMA Bantah Dukung Muzakir Manaf Calon Gubernur Aceh 2017

MEDIAACEH.CO, Banda Aceh – Empat Pemerintah Mahasiswa (PEMA) dari universitas asal Banda Aceh dan Aceh Besar membantah memberi dukungan kepada calon Gubernur Aceh Muzkir Manaf pada Pilkada 2017 mendatang.
Keempat PEMA itu yakni, PEMA Universitas Iskandar Muda, PEMA Universitas Muhammadiyah, PEMA Universitas Abulyatama, PEMA Universitas Serambi Mekkah dan BEM FKIP Serambi Mekkah.
Dalam surat pernyataan sikap dan klarifikasi yang diterima mediaaceh.co, keempat PEMA tersebut tidak pernah mengeluarkan pernyataan mendukung salah satu calon gubernur Aceh pada Pilkada 2017 mendatang.
Berikut isi surat pernyataan :
PERNYATAAN SIKAP DAN KLARIFIKASI
Kepada Yth,
Teman-teman Media
Di –
Tempat
Assaamualaikum wr.wb
Dengan Hormat,
Menyikapi pemberitaan yang di publikasikan oleh media  (Berita di mediaaceh.co, tanggal 30 November 2015-Judul : Mahasiswa Se Aceh Dukung Muzakir Manaf Calon Gubernur 2017) tentang klaim dukungan seluruh mahasiswa  se Aceh oleh Koordinator Mahasiswa Rakan Mualem terhadap dukungan bagi salah satu calon kandidat Gubernur Aceh  yaitu Muzakir Manaf atau sering disapa dengan Mualem pada kontestasi Pilkada Aceh 2017 mendatang. Maka kami dari pimpinan organisasi Mahasiswa di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar dengan menyampaikan beberapa hal terkait klaim tersebut, sebagai berikut :
  1. Kami pimpinan organisasi mahasiswa sebagai mana tersebut dalam rilis ini menyatakan bahwa kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan mendukung salah satu calon dalam kontestasi pilkada Aceh pada 2017 mendatang.
2. Sebaliknya, Kami justru mendorong dan mendukung siapapun para tokoh Aceh yang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk ikut berpartisipasi dalam Pilkada Aceh 2017 mendatang, sehingga dengan banyaknya tokoh Aceh yang ikut berpartisipasi maka secara otomatis akan memberikan banyak pilihan bagi rakyat Aceh untuk menentukan pilihannya dalam memilih pemimpin Aceh kedepan.
3. Kami berharap para pihak untuk tidak saling mengklaim dukungan untuk salah satu kandidat selama belum ada pernyataan resmi dari pihak tersebut,terkhusus bagi organisasi yang tertera didalam pernyataan ini.
4.Sikap ini kami pandang sangat perlu kami sampaikan kepada seluruh masyarakat Aceh agar tidak ada satu pandangan bahwa mahasiswa saat ini sudah terkotak-kotakkan dengan salah satu kandidat karena hal itu akan merugikan seluruh masyarakat Aceh.
5. Kami berharap para pihak untuk bekerja secara professional dalam menyambut Pilkada Aceh 2017 mendatang.
6. Dalam proses menuju Pilkada 2017 nanti, kami berharap kepada para pihak untuk agar tidak terjadi intimidasi dan saling menjelek-jelekan satu sama lain untuk mencapai keinginannya yang bisa merugikan rakyat Aceh.
7. Kepada seluruh Rakyat Aceh dalam Pilkada 2017 nanti kami harap untuk dapat memilih calon pemimpin sesuai hati nurani dengan memperhatikan rekam jejak dan visi misi dari calon tersebut.
Demikianlah pernyataan ini kami sampaikan dengan harapan atas segala klaim yang telah beredar telah kami perjelas kepada seluruh Rakyat Aceh.
Banda Aceh, 30 November 2015
Yang Menyatakan,
PEMERINTAH MAHASISWA (PEMA) DAN BEMAF (BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FAKULTAS
PEMA UNIDA
(Sultan Arief Azlansyah-Presma)
PEMA UNMUHA
(AKMAL-Menteri Eksternal)
PEMA UNAYA
(MUSLIM-Presma)
PEMA  USM
(ULIL AZMI-Presma)
BEM FKIP USM
(Firdaus-Ketua BEMAF)
Share:

PEMA Unaya Desak Pemerintah dan DPR Aceh Segera Sahkan APBA-P

LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Presiden Mahasiswa (PEMA) Universitas Abulyatama Banda Aceh Mendesak DPR Aceh dan Pemerintah Aceh untuk segera mengesahkan APBA Perubahan.
Hal itu disampaikan Presiden Mahasiswa (Presma) Unaya Muslim El Yamani kepada LINTASNASIONAL.com Kamis 22 Oktober 2015, menurutnya, jadwal sidang paripurna pengesahan APBA Perubahan 2015 belum jelas hingga saat ini.”Kondisi ini akan berdampak negatif karena bakal molornya pembahasan dokumen RAPBA 2016″, ujarnya
Katanya, Paripurna pembahasan APBA-P belum ada titik temu sampai saat ini.”Kita menyesalkan sampai sekarang belum ada kejelasan Tentang APBA-P, artinya hak rakyat di tunda-tunda lagi,” jelas Muslim
“Kita sama-sama menyadari bahwa Aceh masih sangat tergantung dengan APBA-P, dengan belum adanya kejelasan kapan pengesahannya sama saja memperlambat perekonomian rakyat,” Ungkapnya
Muslim menambahkan, dengan waktu yang sangat singkat dipastikan tidak akan ada lagi proyek fisik dalam kapasitas besar yang bisa dikerjakan, lanjutnya, walaupun nanti disahkan mungkin saja penggunaannya dengan membagi-bagikan kedalam kelompok-kelompok kecil.
“Karena mengejar waktu, nantinya anggaran hanya dihabiskan dengan kegiatan seremonial dan konsumtif saja,” terang Muslim
Ia berharap Pemerintah bersama DPR Aceh untuk segera mengesahkan RAPBA-P dan jangan ada permainan. “Jikapun belum disahkan karena ada hal yang mengganjal sebaiknya disampaikan ke public biar rakyat tahu alasannya”, pungkas Muslim.(Iskandar. PB)
Share:

PEMA Unaya : Pemotongan Dana Desa untuk KPA Melanggar Hukum

BANDA ACEH-Pemerintahan Mahasiswa Universitas Abulyatama Aceh (PEMA Unaya) menilai pemotongan dana desa yang dilakukan KPA Sagoe dikecamatan Tanah Jamboe Ayee merupakan pelanggaran hukum.

Presiden Mahasiswa (Presma) Unaya Muslim menyebutkan secara hukum tidak ada alasan yang membenarkan pemotongan dana desa tersebut, termasuk kesepakatan bersama antara pak keuchik dan KPA sagoe.

"Dana desa harus digunakan melalui prosedur yang jelas untuk pembangunan desa melalui usulan program yang telah disepakati bersama dalam musyawarah desa dengan melibatkan unsur pemerintahan desa.Sedangkan KPA bukanlah perangkat pemerintahan desa dan tidak berhak meneriama alokasi anggaran tersebut,"kata Muslim kepada AJNN, Kamis (08/10)

Dikatakan Muslim, anggaran desa yang telah dipotong harus segera dikembalikan seperti semula. Kejadian seperti ini harus ditanggapi secara serius oleh kepolisian agar tidak terulang di masa yang akan datang.

" Kita sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi, kesepakatan antara geuchik (kepala desa) dan KPA sagoe juga harus dilihat kembali, apakah kesepakatan itu dibawah ancaman pihak tertentu atau ada motif lain dibalik kesepakatan tersebut," kata Muslim.

Ia juga meminta Pemerintah Aceh Utara mengambil langkah tegas terhadap masalah itu, apalagi Pemerintahan Aceh utara sama-sama berlatar belakang kombatan, jangan justru Pemerintah Aceh Utara menutup-menutupi dan tidak bertindak.

Sumber : www.ajnn.net/NAZAR AHADI 
Share:

Mahasiswa Minta Gubernur Evaluasi Kinerja Kesbangpol Linmas Aceh

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, Zaini Abdullah diminta segera mengevaluasi kinerja Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas) Aceh. Hal tersebut disampaikan Presiden Mahasiswa Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Senat Mahasiswa UIN Ar Raniry Banda Aceh, Senin (21/9).

"Gubernur perlu melakukan evaluasi Kepala Kesbangpol Aceh, jangan hanya mengutamakan kampus besar saja, sedangkan kampus kecil didiskriminasi, kampus-kampus kecil juga perlu juga diakomodir," kata Presiden Mahasiswa Unaya, Muslim kepada AJNN di Banda Aceh.

Muslim menjelaskan selama ini pihak Kesbangpol Aceh terlalu diskriminatif terhadap kampus-kampus kecil yang ada di Aceh. Hal itu katanya bisa dilihat saat ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya besar dimana Kesbangpol akan mengutamakan undangan untuk kampus-kampus tertentu.

"Contohnya kalau ada acara, pihak kesbangpol pasti lebih banyak mengutamakan kampus-kampus besar, kalau kampus yang mempunyai nama besar undangan bisa 10 orang, sedangkan kampus kecil hanya 5 atau 3 orang yang diundang," jelas Muslim.

Selain itu, kegiatan yang selama ini dilakukan Kesbangpol Aceh, menurut Muslim tidak ada yang berdampak bagi masyarakat.

Muslim bahkan menantang Kesbangpol untuk mempublikasi kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan jika memang ada yang berdampak positif bagi masyarakat.

"Kami tantang Kesbangpol, karena memang kegiatan yang dibuat oleh kesbangpol selama ini tidak ada yang berdampak pada masyarakat langsung, kalau memang terbukti tidak ada yang berdampak pada masyarakat, Gubernur Aceh perlu untuk segera mencopot Kepala Kesbangpol," katanya.

Kesbangpol Aceh, tambah Muslim, sering membuat kegiatan di akhir tahun. Hal itu disinyalir oleh Muslim sebagai program menghabiskan anggaran.

"Program akhir tahun memang untuk menghabiskan anggaran," imbuhnya

Sementara itu, Sekjen Senat Mahasiswa UIN Ar Raniry Banda Aceh, Muhammad Reza Fahlevi juga menilai Kesbangpol selama ini hanya mementingkan kelompok tertentu.

"Jangan hanya mementingkan keluarga saja, orang lain juga perlu dibantu dalam mengelar kegiatan, karena banyak gagasan masyarakat dan mahasiswa yang perlu dibantu oleh Pemerintah Aceh khususnya di kesbangpol," jelasnya.

Ia juga meminta Kepala Kesbangpol Aceh untuk lebih efektif dan objektif dalam memandang isu-isu yang berkembang di Aceh.

"Kalau memang tidak mampu, kami minta Gubernur Aceh untuk mengevalusi Kepala Kesbangpol Aceh. Tidak perlu isu nasional dibicarakan di Aceh, seperti persoalan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) yang masih tumpang tindih dalam penyelesaiannya, coba garap isu itu," katanya.

Sumber : ajnn.net
Share:

Translate

FOLLOW ME ON YOUTUBE

Popular Posts