Ngopi . Diskusi . Solusi

Faktor Emas

26 Maret 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh, maklumat itu pula secara resmi menandakan perang Aceh dimulai. Dengan membawa 3.198 tentara dimana 168 diantaranya adalah perwira, Johan Harmen Rudolf Kohler sebagai panglima mendarat di pantai Ceureumen, Ulee Lheue pada 5 April 1873. Saat itu pula Jendral Kohler tewas ditangan mujahidin Aceh. Secara umum perang Aceh disebabkan karena Belanda ingin menguasai Aceh yang kaya akan sumber daya alam, selain itu Aceh berada dalam posisi strategis dalam lalu lintas perdagangan (wikipedia.org). Perjalanan perang yang memakan korban begitu banyak tersebut tidak lepas dari bau-bau pengkhianat dalam tubuh rakyat Aceh itu sendiri. Mungkin kita sering menonton film Cut Nyak Dhien yang di sutradarai oleh Eros Djarot, dalam film itu mengisahkan pengkhianatan seorang Leubeh terhadap Aceh hanya demi kepingan-kepingan emas (uang dan fasilitas) dari Belanda, sehingga ia rela mengorbankan bangsanya demi hidup bermegah-megahan dengan harta pemberian Belanda. Sehingga musuh dengan mudah menyerang persembunyian pejuang Aceh. Saat itu pula “emas” telah membutakan mata hatinya.

                Pasca kemerdekaan ternyata perang belum berakhir di bumi Serambi Mekah ini. Pada tahun 1953, Teungku Daud Beureueh dengan DI/TII-nya menyatakan kekecewannya terhadap Indonesia yang dianggap telah berkhianat karena melupakan janji “emasnya” kepada Rakyat Aceh, saat itu Sukarno pernah berjanji bahwa Aceh dimungkinkan untuk menentukan sistem pemerintahannya sendiri yang berasaskan Islam. Saat itu, Daud Beureueh memobilisasi dana rakyat, dalam setahun, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana sebanyak 500.000 dolar AS. Sebanyak 250.000 dolar diberikan untuk ABRI, 50 ribu dolar disumbangkan untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar disumbangkan untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat  melalui AA Maramis.  
Aceh juga turut menyumbang emas untuk membeli obligasi Indonesia, biaya pendirian perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang (acehpedia.org) yang kini salah satunya masih bisa kita saksikan di Taman Blang Padang, Banda Aceh. Namun janji itu tak kunjung dipenuhi oleh Sukarno.Bahkan Sukarno semakin agresif menyerang pasukan TgK. Daud Beureuh dengan mengerahkan tentara yang tak sedikit.. Selain itu status provinsi bagi Aceh di cabut pada tanggal 23 Januari 1951 dan dileburkan kedalam Provinsi Sumatra Utara (serbasejarah.wordpress.com). disebabkan itu, Tgk. Daud Beureueh memberontak dengan mendirikan DI/TII, Aceh kembali bergejolak, lagi-lagi karena “emas”, “emas” yang diucapkan oleh sukarno itu telah memantik api peperangan di Bumi Serambi Mekah.
                Tahun 1962, Teungku Daud Beureueh dibujuk oleh menantunya El Ibrahimy untuk menuruti Menhakam AH Nasution untuk menyerah. Setelah melakukan perundingan dengan turut serta melibatkan para ulama, akhirnya Daud Beureueh menyerah. Menyerahnya Tgk. Daud Beureueh ini karena  dijanjikan akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh.  Maka karena janji “emas” ini pula dapat melunakkan hati Tgk. Daud Beureueh, namun UU itu baru terwujud tahun 2001. Jauh dari apa yang diharapkan oleh Tgk. Daud Beureueh.
                Usai DI/TII, lembaran Baru sejarah Aceh dimulai namun isi ceritanya tetap sama, yaitu ketidakadilan. Putra Aceh bernama Hasan Tiro meproklamirkan perang terhadap Republik Indonesia. Munawar A. Jalil dalam bukunya ”Mengapa Hasan Tiro Berontak” menyebutkan salah satu penyebab pemberontakan Hasan Tiro adalah realitas sosial yang terjadi di Aceh selama pemerintahan suharto, dimana pihak asing dengan leluasa mengeruk hasil alam Aceh dengan restu Suharto, namun  Aceh tak mendapatkan imbalan yang layak dari hasil kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Aceh. Lagi, “emas” yang dikandung bumi Aceh itu menciptakan perang yang meluluh lantakkan Aceh lebih dari tiga puluh tahun lamanya.
                 15 Agustus 2005 Aceh menuliskan cerita baru dalam catatan sejarahnya, setelah berperang melawan pemerintahan Republik Indonesia yang sudah dijalanani cukup lama akhirnya berakhir damai dengan ditandatanginya perjanjian damai antara GAM dan Pemerintah RI. Lukisan wajah Aceh baru kini dimulai. Aceh diberikan “emas” berbentuk otonomi khusus, kewenangan mengatur pemerintahannya sendiri, dana bagi hasil Migas yang melimpah, bendera sendiri, himne, lembaga Wali Nanggroenya dan sederet keistimewaan lainnya yang dipersembahkan untuk Aceh, kini Aceh bergelimpangan harta. Meski ada alasan kemanusiaan dan sebagainya, tapi tetap saja “emas” itu ikut andil dalam upaya meredam hasrat merdeka yang selama ini di perjuangkan.
Emas dalam cerita pasca damai
Menghadapi tahun politik 2014, dimana akan dilaksanakan pesta demokrasi lima tahunan, tepatnya 9 April 2014 akan diselenggarakan pemilihan Calon anggota legislatif diseluruh Indonesia secara serentak. Kualisi NGO HAM dalam analisis peta konflik dan kekerasan Aceh tahun 2013 (globejurnal, 3 januari 2014) mengatakan, potensi konflik yang bernuansa politik yakni terkait pemilu di Aceh masih sangat tinggi. Sebagai gambaran, Jumat 25 April 2013, Muhammad Bin Zainal Abidin (33) alias Cek Gu tewas ditembak. Cek Gu tercatat sebagai sebagai anggota Tameng Nasional Aceh (TNA), sayap politik Partai Nasional Aceh. Menurut hasil pemeriksaan pembunuhan Cek Gu tersebut ada kaitannya dengan salah seorang anggota DPRK Pidie dari partai penguasa. Dari para pelaku terungkap karena sang anggota dewan sakit hati karena korban telah menjelek-jelekkan partai Aceh dan petinggi dipartai lokal tersebut. Meski salah satu pelakunya diponis bebas baru-baru ini oleh pengadilan, namun kasus ini diasumsikan berkaitan erat dengan masalah politik, yaitu persaingan dua partai lokal PNA dan PA. Koalisi NGO HAM menambahkan bahwa kekerasan berbau politik tidak hanya berhenti pada kasus Cek Gu, tetapi berlanjut dengan pembakaran  mobil ford merah milik salah satu kader PNA bernama Herlina di rumahnya Keudee Geudong, Samudra, Aceh Utara. Kemudian ancaman yang diterima salah satu politisi PNA di Aceh Besar yang di ancam untuk tidak ikut serta dalam pemilu 2014.
                Tidak hanya PNA, Partai Aceh pun mengaku merasakan hal yang sama, yakni yang diterima oleh kadernya Fadil Muhammad (33) wakil ketua Komisi A DPRK Aceh  Timur, dia mengaku mobilnya ditembak orang tak dikenal saat parkir di depan kantor PA di simpang ulim pada minggu 14 Januari 2013. Dan yang terakhir adalah pembakaran mobil kader PA pada minggu, 19 Januari 2014 pada dini hari(harianandalas.com).
                Pertarungan politik ini semakin memanas, potensi konflik di tahun 2014 diprediksi tak jauh beda seperti yang pernah terjadi pada pemilukada silam, setidaknya itu yang yang disampaikan oleh Daninteldam Iskandar Muda beberapa waktu lalu dalam sebuah diskusi di warkop Zakir di Banda Aceh bersama pimpinan lembaga kemahasiswaan dari beberapa kampus di Banda Aceh dan Aceh Besar. Tak hanya itu Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi juga berpendapat sama. Dalam laporannya kepada Kapolri Jendral Sutarman, sebagaimana diberitakan harian serambi Indonesia (kamis,16/1/2014), Kapolda Aceh mengatakan bahwa ada dua partai lokal Aceh yang diprediksi rawan terjadinya konflik antara pendukung, sebagian pengurus atau caleg dari kedua partai lokal ini. Sebagai mana kita ketahui bahwa kedua partai tersebut sama-sama dibidani oleh mantan kombantan.
Meski dimungkinkan adanya penyebab lain, tapi konflik yang terjadi selama ini bisa kita asumsikan penyebabnya adalah karena faktor perebutan kekuasaan, keinginan untuk menjadi penguasa dinegeri serambi mekah ini kian membara bagi sebagian elit masyarakat yang notabenenya adalah orang-orang yang sedang berkuasa dan pernah berkuasa. Keinginan yang besar tersebut sering dibungkus dengan kalimat; kita harus memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan yang telah gagal, dan caranya adalah merebut tahta dari rezim-rezim yang sedang berkuasa. Atau sebaliknya, kita harus melawan dan menumpas orang-orang yang tidak sejalan dengan kita, maka label “pengkhianat” menjadi alasan pembenar untuk “mensekolahkan” mereka.
Tapi sayangnya label “pengkhianat” tersebut sering tidak bisa kita terjemahkan, apakah pengkhianat hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak sependapat dengan kita saja? Orang yang sering mengkritik kita? Atau bagaimana?. Lalu bagaimana dengan mereka yang menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompok? Bagaimana dengan orang-orang yang menggunakan kekuasaannya untuk menciptakan “lupa” dari peristiwa-peristiwa masa silam yang telah merenggut banyak korban? Bagaimana dengan mereka yang menggunakan kewenangannya hanya untuk “keadilan” segelintir orang? Bagaimana dengan para “penjilat” kekuasaan? Apa mereka tidak termasuk dalam kategori pengkhianat? Entahlah, mungkin ini juga karena  “emas” yang sedang diperebutkan; kekuasaan.
                Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju tapi inilah realitas yang pernah dan akan terus terjadi dalam perjalanan sejarah Aceh. Keberadaan “emas” ini menjadi salah satu faktor dimulai dan berakhirnya konflik. Bedanya, jika Teuku Umar syahid terkena tembakan peluru emas Belanda, maka kepergiannya bersama peluru emas tersebut demi memperjuangkan kemerdekaan agama dan bangsa Aceh dari penjajahan Belanda. Jika pemberontakan Tgk. Daud Beureueh meredup dan berakhir karena janji “emas” penerapan syariat Islam  di bumi serambi mekah, meski “emas” tersebut butuh waktu lama baru diimplementasikan undang-undangnya, tapi perjuangan beliau tercermin karena membela agama juga bangsa. Lalu Hasan Tiro, jikapun ada pendapat lain, tapi secara umum rakyat Aceh sependapat bahwa perjuangannya demi mengembalikan martabat dan kedaulatan Aceh berlandaskan Historis, Yuridis dan Realitas sosial. Maka tujuan yang ingin dicapai juga “emas” keadilan bagi seluruh rakyat Aceh.
                Tak jauh beda dengan konflik yang sekarang sedang terjadi pasca perdamaian, penembakan, pembakaran dan berbagai macam tindak kekerasaan lainnya yang sebagian besarnya, hampir bisa dipastikan berkaitan dengan keinginan untuk memperebutkan “emas” yang menjelma dalam bentuk kekuasaan, jabatan, dan keadilan semu bagi kalangan tertentu, sehingga segalanya menjadi “halal” ketika dapat membawa keuntungan bagi kita dan menjadi “haram” jika merugikan kita. Dari sederet perjalanan panjang cerita luka dibalik sebuah peperangan di Aceh, “emas” menjadi alasan penting kenapa cerita itu dimulai dan diakhiri.
Aceh Besar, 22 Januari 2014
Share:

No comments:

Post a Comment

Translate

FOLLOW ME ON YOUTUBE

Popular Posts