 |
| (foto : Google Image) |
(Oleh : Muslim)
Alkisah, ada sebuah desa yang dihuni oleh banyak penduduk. Desa itu terletak jauh dari pusat perkotaan. Diantara hamparan sawah dan gunung yang menjulang. Kota Happy nama desanya.
Meski demikian, mereka tak pernah ketinggalan zaman. Rumah-rumah warga sudah teraliri listrik untuk penerangan, sudah punya rice cooker memasak makanan. Akses internet juga tersedia. Meski kadang secepat keong berjalan. Beragam teknologi massa kini mereka punya. Aplikasi Facebook dan WhatsApp sudah biasa.
Hiruk pikuk perhelatan Asian Games ikut mereka nikmati, siapa yang duduk dipuncak klasemen perolehan medali? China jawab mereka. Indonesia peringkat keberapa? Peringkat keempat mereka ucap dengan bangga.
Sungguh mereka tak tergolong orang-orang yang ketinggalan zaman. Kecuali hanya satu; Pemikiran.
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru ambil kesimpulan. Desa itu bukan seperti yang sedang anda bayangkan; tak ingin maju juga tak karuan.
Desa ini cukup teratur. Ada pemerintahan lengkap dengan aparatur. Persoalan masyarakat sudah ada yang "atur", walau kadang membuat masyarakat semakin tak akur. Mereka juga peduli dengan masa depan. Dikirimkan nya anak-anak muda jauh diperantuan, menimba ilmu memupuk masa depan.
***
Suatu masa, mereka bersiap-siap memilih panglima mewakili desa untuk duduk di lembaga Berkuasa. Sebuah lembaga yang berfungsi menampung kata-kata, kemudian diramu menjadi sebongkah harta. Lembaga ini berkedudukan di Ibu Kota Singgasana. Anggotanya utusan setiap Kafilah. Satu Kafilah terdapat enam desa. Desa Kota Happy termasuk dalam kafilah kelima, dari total lima kafilah dalam wilayah Singgasana.
Bertahun-tahun yang lalu, utusan mereka tak pernah berhasil duduk di lembaga Berkuasa itu. Sudah tentu pula tak ada kata-kata dari desa Happy yang tertampung, dan juga tak ada sebongkah harta yang mengalir hingga ke kampung-kampung. Desa Kota Happy terkatung-katung, tak ada pembangunan, tak ada pula santunan.
Masyarakatnya berkeluh kesah, kenapa nasib berat sebelah?
Melihat kondisi itu, para anak muda yang dahulu dikirim ke perantauan, untuk menimba ilmu dan memupuk masa depan, kembali pulang membawa harapan, agar desa mereka tidak sekedar tempat bercocok tanam, oleh sekelompok orang dari negeri entah berantah.
Dikumpulkannya teman seangkatan, seumuran dan sepandangan. Disusun pula rencana dan program. Agar terciptanya sebuah persatuan. Dibersihkannya hati dengan niat yang suci, mereka hadir bukan untuk kepentingan pribadi.
Langkah demi langkah mereka ikuti, mereka temui pemuka-pemuka, diskusi kesana-kemari. Dijelaskan tujuan yang dicari. Semua itu agar tak salah mengambil solusi.
Apa yang terjadi?
Ditemuinya rintangan yang menghadang, dalam kata-kata berbungkus harapan. Bagi mereka itu bukan masalah, karena itu adalah perjuangan.
Tapi apa yang menyakitkan?
Mereka dijegal oleh sosok panutan. Langkah mereka adalah kekhawatiran. Ide mereka dianggap tak sejalan; jangan-jangan itu pesanan. Begitulah kecurigaan, terus dibangun dan dipupuk, agar tak mengusik pilihan politik, sang "Panutan".
Para pemuda tadi, yang semangatnya berapi-api, perlahan mulai berhenti. Bukan berhenti karena tak mampu berbuat dan berpikir lagi. Tapi ada banyak tanda tanya yang menggangu sanubari.
Kenapa disaat kritis begini, masih ada yang tak sehati, diberi harapan lalu di hantam. Disuruh melangkah kakinya dipatah. Kenapa bisa? Kenapa tega? Begitulah mereka, para anak muda tadi, dalam hati bertanya-tanya.
Kondisi saat ini memang sedang kritis. Desa Kota Happy begitu miris, punya lumbung suara tapi tak bisa apa-apa. Yang aneh, banyak dari panutan tadi juga merasa, bagaimana sulitnya meminta dana, bolak balik ke ibu kota Singgasana, tak memperoleh apa-apa.
Yang paling menyakitkan soal harga diri. Saban tahun dihina dan dicaci. Ucapannya sederhana, tapi menusuk kedalam dada; Eungkot meuneng keu peunawa, ubee na suara dumnyan ta hareuga.
Tapi apa hendak dikata, ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Begitupun dengan sikap sang Panutan, kecurigaan sudah terlanjur didepan. Padahal anak-anak muda tadi punya harapan, sosok panutan berdiri didepan. Tapi kondisi tak sesuai keinginan, meski mereka punya jabatan, yang seharusnya berpikir didepan, melupakan sekat kepentingan, justru hadir dengan sedikit berpikir dan mengubur cita-cita persatuan.
Itulah mereka, sosok panutan dari desa kecil, yang pikirannya "kecil" dan sempit.
~~~