Tujuan utama berobat
dirumah sakit pasti untuk sembuh. Begitupun orang yang mengantarkan anggota
keluarganya berobat punya keinginan yang sama, yang suami ingin istrinya sehat,
yang istri ingin anaknya beraktivitas seperti biasa. Yang jomblo? Mohon bersabar ini ujian. Tapi apa jadinya jika berobat kerumah sakit justru menambah jumlah orang sakit, terutama bagi anggota keluarga yang mengantarkan pasien berobat. Apa jadinya jika begini? Tentu semua
orang tidak ingin hal itu terjadi. Kondisi ini mungkin saja terjadi saat
berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin Banda Aceh. Loh kok begitu? Jika melihat rumitnya
proses administrasi di rumah sakit rujukan Provinsi Aceh itu rasa-rasanya bisa saja terjadi, jika bukan sakit fisiknya,
bisa jadi sakit hatinya.
Apalagi bagi
masyarakat yang baru pertama kali kesana, yang ibu-ibu datang seorang diri membawa bayinya,
yang harus kesana kemari dari poli satu ke poli lainnya. Dari ruangan satu ke
ruangan satunya lagi. Lelah dan pusing rasanya.
Sakit administrasi.
begitu saya menyebutnya. Diagnosisnya? menurut 'ilmu medis' saya,
disebabkan panjang dan ribetnya proses administrasi yang harus dibawa ke setiap
ruangan yang akan didatangi. Setidaknya begitulah hasil perenungan yang saya
lakukan dan rasakan, setelah dua hari kesana-kemari mengurus administrasi salah
satu keluarga yang sakit.
Itulah dasar
"ilmu medis" yang saya gunakan, untuk menentukan jenis penyakit tadi.
Hasil amatan seorang yang bukan ahli medis juga bukan ahli nujum, tapi
pengalaman dilapangan yang dirasakan sendiri, juga melihat dan mendengar
beberapa orang yang mengeluhkan hal yang sama, hingga kesimpulannya saya
sebutkan Sakit Administrasi tadi. Yang nama penyakitnya dalam dunia medis tidak
saya ketahui. Yang 'resep' obatnya saya tuliskan disini. Dengan ejaan bahasa Indonesianya, maafkan
saya, serumit proses administrasi tadi, yang struktur bahasanya kesana
kemari. Mudah - mudahan para pembaca tak perlu masuk poli sana - sini. Saya berharap ada
yang mau mengoreksinya, dikolom komentar blog ini.
Diagnosis tadi
berdasarkan contoh kasus berikut, pasiennya anak kecil yang diperlukan tindakan
operasi, ketika mendaftar diloket, pasien (pendamping) disediakan pilihan loket
: Pasien lama atau baru. Setelah itu, pendamping pasien diberikan lembaran
kertas untuk dibawa ke poliklinik umum. Disana pasien menunggu antrian hingga dipanggil dan diarahkan ke poli bedah anak untuk diperiksa oleh
dokter. Begitupun poliklinik lain, sesuai keluhan pasiennya.
Setelah diperiksa,
jika diperlukan tindakan operasi, maka ada banyak lagi ruangan yang harus
dituju sambil membawa lembaran "kertas warna-warni". Seperti kasus
diatas, maka pasien harus melakukan pemeriksaan darah, mengambil obat di
apotik, pemeriksaan SWAB, poli anak, poli anestesi, dan loket untuk penentuan kamar rawat.
Semua itu harus dilampirkan kertas warna-warni tadi. Surat Eligibitas Peserta
namanya. SEP singkatannya. BPJS Kesehatan logo disudut kiri atas kertasnya, aduhh lagi-lagi tentang administrasi BPJS, yang pernah dikritik karena tak semudah JKA,
programnya Irwandi dulu. Cikal - bakalnya JKN itu. Sebanyak empat lembar SEP diserahkan kepada pasien, satunya lagi disimpan di poliklinik umum.
Pengalaman penulis,
saat mendampingi pasien yang masih bayi untuk dilakukan tindakan diruang
operasi, seperti kasus
diatas, setiap poli wajib
melampirkan SEP. Karena banyaknya ruangan yang dituju, SEP tadi tidak mencukupi untuk mendaftar pemeriksaan SWAB, petugas pun menolak melakukan
pemeriksaan, hingga harus daftar lagi diloket pendaftaran, besoknya, untuk mendapatkan SEP tadi. Karena tanpa SEP itu tidak bisa dilakukan SWAB, dan tanpa hasil SWAB, pasien akan
ditolak oleh petugas untuk masuk ruang rawat inap. Dan proses selanjutnya pun
belum bisa dilakukan.
Selain itu, kami juga harus mengambil suatu obat di apotik, namun harus
dilengkapi sebuah surat yang menurut dokter yang menangani pasien disebut
surat jaminan, untuk pengambilan obat tertentu yang mestinya harus diserahkan
kepada petugas apotik sehari atau beberapa jam sebelum operasi. Tetapi surat itu
lupa diberikan sebelumnya sehingga harus disiapkan saat itu juga, baru kemudian
diantarkan ke apotik. Namun begitu diserahkan kepetugas apotik, obatnya tidak
bisa langsung diambil, padahal pasien sudah hitungan jam didalam ruang operasi,
karena obatnya harus dipersiapkan terlebih dahulu, ditempat lain dengan proses
tertentu dalam waktu tertentu pula.
Sungguh begitu banyak,
bikin ruwet, tambah pusing. Stress dan lelah hanya untuk mengurus administrasi saja. Akhirnya bisa jadi sakit itu semakin menambah sakit si pasien atau
dua-duanya sekalian masuk rumah sakit. Sangat mungkin terjadi, setidaknya begitu melelahkan.
Banyaknya proses
administrasi tadi itu bisa dimaklumi. Yang saya tidak pahami kenapa tidak pakai
teknologi? Bukankah ini zamannya digital, kalau pesan makanan tengah malam saja
cukup dengan sekali klik, bisa pilih menu dari berbagai restoran.
Hal seperti itu juga
mungkin diaplikasikan di rumah sakit, yang berobat ke RSUZA cukup mendaftar di
satu loket saja, semua data terintegrasi dari poli satu ke poli lainnya. Dari tempat satu ke ketempat lainnya. Si
pasien cukup diberikan selembar kertas berisi kode khusus atau bisa juga dengan scan barcode,
bagi pengguna smartphone untuk di
tunjukkan kepada petugas itu, sipetugas tinggal memaikan mouse
dan keyboard komputer, semua rekam medis dan syarat administrasi ada disitu. Bundelan kertas – kertas itu pun bisa dikurangi.
Memang saat ini sudah
tersedia layanan daftar online di website RSUZA. Tapi yang jadi persoalan bukan
hanya kemudahan memangkas antrian pendaftaran. Tapi lagi-lagi soal mengurangi banyaknya
kertas yang harus ditunjukkan oleh pasien di setiap ruangan. Yang sangat
mungkin tercecer, lupa dan sebagainya. Itu yang jadi fokus tulisan ini,
mengurangi penggunaan kertas yang harus tunjukkan secara fisik disemua ruangan
tadi, bahkan ke apotik rumah sakit sekalipun lembaran SEP itu wajib dilampirkan
disamping resep obatnya.
Penggunaan teknologi
seperti ini rasanya tidak begitu sulit, asalkan ada kemauan berinovasi. Tapi apalah daya, kita memang masih gagap dengan dunia
teknologi. Ternyata bukan hanya Bank Aceh yang masih gagap
teknologi, yang hampir setengah abad usianya itu, internet Bankingnya saja
masih belum terbilang canggih dibandingkan Bank sejenis di provinsi lain,
sementara tuntutan zaman untuk melakukan transaksi tak hanya seluas ruang ATM,
atau duduk semeja bertemu wajah dengan petugasnya. Yang pernah disorot
habis-habisan oleh Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Tapi belum juga ada kabar gembira.
Rumah sakit kitapun rupanya begitu sulit atau jangan-jangan belum mau
berinovasi. Seperti begitu
sulitnya melihat mayoritas petugas rumah sakit melayani pasien dengan ramah. Kecuali satu dua
orang saja. Jika sudah begini, saya teringat apa yang pernah di
ucapkan Elon Musk tentang prinsip di perusahaannya, "Membuat kesalahan di
sepanjang perjalanan tidak membuat Anda dikenai sanksi. Namun, gagal untuk
mengupayakan inovasi akan berbuah bagi Anda. Anda akan di pecat".
Sepertinya Nova
Iriansyah juga perlu "bertindak keras" agar Direktur Rumah Sakit
Zainoel Abidin juga harus berbenah, karena yang dibutuhkan masyarakat adalah kemudahan bukan kemudharatan. Managemen rumah sakit harus memberikan pelayanan berobat bukan sekedar pelayanan administrasi, agar tidak menjadi rumah sakit administrasi. Maka melakukan inovasi dalam pelayanannya adalah kewajiban,
agar paripurna seperti akreditasinya.
-----------------Oleh : MuslimBanda Aceh, 27 Juli 2020





