![]() |
| Foto : soulzhealer.blogspot.com |
Lalu Perdana menteri nya, Jacinda Ardern menarik perhatian atas sikapnya merespon penembakan tersebut. Perdana Menteri termuda dalam sejarah Negara itu. Hadir ditengah-tengah korban. Berkerudung dan bahkan menolak menyebut nama pelaku sebagai bentuk kecaman.
Dengan sikap nya itu, sampai-sampai Erdogan, Presiden Turki yang dikenal keras melawan dominasi barat, mengatakan Jacinda Ardern adalah sosok yang harus dicontoh oleh negara-negara Barat itu.
Sementara didalam negeri. Elit Bangsa ini juga berhasil menarik perhatian kita semua. Bukan karena prestasi tapi tersandung kasus korupsi. Aktornya Ketum Partai PPP, terjaring OTT KPK. Namanya Ir. Muhammad Romahurmuziy, MT alias Rommy. Umur nya juga masih muda : 44 tahun. Ia menerima suap pengaturan jabatan di Kementerian Agama. Pusat hingga daerah.
Sempat ingin kabur saat ditangkap. Rommy berkilah ia dijebak. Tapi KPK segera membantah. lengkap dengan bukti bahwa ia bersalah.
Kasusnya pun merembet kemana-mana : mulai dari penyitaan ratusan juta rupiah di ruang kerja Menteri Agama hingga penempatan pejabat di sejumlah kampus UIN dan STAIN, juga Kemenag Aceh.
Dua kabar itu sungguh memilukan, keduanya tak berperikemanusiaan. Keduanya patut dikecam. Dan diganjar seberat-beratnya hukuman. Karena yang satu membunuh dalam hitungan jam, satunya lagi membunuh secara perlahan.
Namun dua kasus itu bukan satu-satunya kabar besar. Sejak dana desa bergulir. Banyak kabar besar yang muncul dari desa. Kabar besar itu keluar masuk di telinga masyarakat. Hilir mudik dari warung kopi satu ke warung kopi satunya lagi. Tak sempat masuk koran lokal apalagi TV nasional.
Tapi kabar Dana Desa sebenarnya juga tak kalah besar. Dana yang bertujuan sebagai upaya mengentaskan kemiskinan dan memulai pembangunan Indonesia dari desa. Hingga kini belum juga terlihat hasil nyata. Di daerah saya.
Akar masalahnya bermacam-macam. Selain permainan sejumlah aparat juga pengawasan tak begitu ketat. Soal itu kita semua sudah paham. Jadi tak perlu saya jelaskan.
Tapi ada yang lebih mengkhawatirkan. Yang muncul setelah dana dikucurkan.
Apa itu?
Sarjana pulang kampung!
Lo, kenapa?
Bukannya sarjana pulang kampung justru baik? Menyerap ilmu di bangku perkuliahan lalu membangun kampung dengan ide dan pengalaman.
Ia, memang begitu harapannya.
Tapi ini ceritanya beda. Oknum sarjana ini justru jadi aktor intelektual mengelabui masyarakat desa.
Lo, kok bisa?
Begini, ada kasus yang terjadi disalah satu desa, di daerah saya, kebanyakan masyarakat nya tidak begitu mengerti bagaimana aturan penggunaan dana desa--wajar, sama seperti kebanyakan desa di Indonesia, disinilah seharusnya para sarjana pulang kampung tadi menjadi penerang.
Anak-anak muda tadi. Para sarjana itu bergabung menjadi perangkat desa. Harapannya menjadi tonggak penggerak perubahan. Tapi sayang beribu sayang. Mereka-mereka ini menjadi bagian dari kabar memilukan.
Ada yang kuat bicaranya. Menjadi pemimpin bersuara mengelabui masyarakat. Ada yang diam pembawaannya, menjadi penakut hilang pendapatan nya. Mencari posisi aman agar bisa terus mengeruk pundi-pundi kekayaan yang tak seberapa.
Mereka atur bermacam siasat. Melalui strategi yang cukup meyakinkan. Mereka bangun lapangan bola. Aturannya harus menggunakan masyarakat sebagai tenaga kerja. Tapi mereka sulap agar keuntungan berlipat-lipat : alat berat yang menimbun tanah, bayar upah kerja masyarakat dilaporannya.
Mereka bangun tempat ibadah. Menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah. Menggunakan atap cat pabrik yang mewah, tapi mereka pasang dengan barang yang harga dan kualitasnya murah.
Begitulah para oknum sarjana tadi, pulang kampung semakin menjadi-jadi. Menjadi cercaan karena nafsu mengumpulkan pundi-pundi.
Sungguh kabar besar yang memilukan.
Ujong Tanoh, 25 Maret 2019





No comments:
Post a Comment