![]() |
| Sumber Gambar : www.flickr.com |
OLEH : M U S L I M
Harapan itu sekiranya tidaklah berlebihan. Karena gelar yang ia sandang adalah gelar yang dahulu disematkan kepada raja-raja dan wali sebelumnya. Setidaknya demikianlah kata ketua DPRA saat itu, Hasbi Abdullah. Yang saya kutip di Harian Serambi Indonesia.
Sungguh begitu besar cita-cita untuk kemajuan kebudayaan dan persatuan di Aceh. Sebagai daerah yang baru saja menikmati indahnya perdamaian. Tangan dingin Paduka Wali sangat dinantikan. Menanti tarian jari-jemarinya menunjuk kearah baru peradaban Aceh. Melupakan kenangan pahit yang berdarah-darah. Menuju Aceh baru yang lebih terarah. Begitulah cita-cita dan harapan ditanamkan. Menjadi pemersatu, berdiri diatas segala kepentingan lawan dan kawan.
Namun apa hendak dikata. Cerita sang Paduka tak sepenuhnya indah. Sejak awal bermula kisah, banyak kecaman dan teriakan dari segala arah. Yang menolak dan tak searah. Semuanya tumpah ruah.
Banyak yang mengatakan penolakan kepada Sang Paduka, karena kepentingan politik kawan yang tak searah. Mungkin benar bisa juga salah. Karena baju Paduka memang masih basah dengan warna dan wewangian si merah. Padahal paduka diharapkan jadi penengah.
Selai alasan baju tak sedikit juga yang merasa gerah, kehadiran Paduka bagaikan masalah. Lihat saja, yang mengkritik banyak juga generasi muda yang paham hukum ada juga ahli sejarah.
Beragam syarat yang dibuat, tapi untuk Paduka bukan keharusan yang mengikat.
Banyak yang bertanya silsilah sejarah, dari nasab mana Paduka pewaris Wali ke 9. Aturan mengatur wajib baca Alquran, tapi Paduka tak pernah menghiraukan. Berbagai trik dilakukan, agar Paduka bisa ke istana dengan mudah. Dan Paduka memang cukup mudah untuk melangkah. Menikmati kursi empuk di Istana nan megah.
Masih ingat ajakan jadi khatib dihari Jumat? Sindiran nyata yang memang tak pernah Paduka buktikan sebaliknya bukan? Masih ingat bagaimana konflik politik antara petinggi kawan-kawan seperjuangan diawal-awal Paduka memangku jabatan? Semua berjalan liar dan Paduka tak mampu jadi panutan. Tak mampu jadi penengah agar semua bisa tersenyum ramah.
Semua itulah, menurut saya, untuk menjadi simbol persatuan, Paduka memang tak bisa diharapkan.
Paduka, saa itu mungkin saya terlalu berlebihan. Menganggap Paduka tak bisa diharapkan. Sementara Paduka baru duduk dijabatan. Mungkin saya terbawa perasaan, karena banyaknya suara penolakan.
Tapi setelah bertahun Paduka didalam, bermiliar-miliar anggaran dihabiskan. Anggapan saya yang dulu semakin meyakinkan. Sekali lagi, Paduka memang tak bisa diharapkan. Bukan bermaksud bersikap tak sopan, tapi buktinya memang demikian.
Hanya tinggal hitungan hari. Menjelang berakhirnya jabatan sebagai Paduka Wali. Suara-suara penolakan kembali terdengar. Para aktivis terus menyuarakan. Media-media memberitakan.
Lalu dengan singkat Paduka menjawab. Mereka-mereka ini tidak paham janji perdamaian. Seolah-olah Paduka memberi isyarat: mereka-mereka ini tak paham perjuangan rakyat.
Bukan Paduka. Bukan seperti yang Paduka bayangkan. Kritikan-kritikan itu sekali lagi ingin menyuarakan, bahwa Paduka gagal memangku jabatan. Bukan karena tak sepaham apalagi mengkhianati perdamaian.
Paduka. Sungguh. Diawal paduka menggenggam jabatan, saya berharap Paduka membuktikan. Suara-suara yang dulu meragukan Paduka punya kemampuan. Akan dijawab dengan bukti nyata yang tak terbantahkan. Suara-suara yang mengatakan Lembaga Wali tak berperan meyakinkan. Akan dijawab dengan hasil kerja yang bisa dipertanggung jawabkan. Sesuai banyak nya anggaran yang sudah dihabiskan.
Tapi apa hendak dikata, hingga berakhir masa jabatan, paduka tak mampu untuk meyakinkan: ditangan Paduka Lembaga Wali Nanggroe akan harum dan menggembirakan.
Kini paduka bernafsu maju lagi, dengan dalih perjuangan dan pekerjaan membangun Aceh yang belum usai. Ia Paduka, memang benar, memang benar perjuangan dan persatuan Aceh selalu jadi alasan, hingga bernanah telinga kami mendengar nya: karena muak dan memalukan.
Sudahlah paduka, cukuplah yang sudah, tak usah bernafsu karena periode yang lalu paduka memang tak mampu. Memang empuk kasur-kursi di istana putih itu, tapi sungguh jangan terbawa nafsu. Cukup jadi sosok yang dituakan diluar jabatan-jabatan itu, agar tenang dan bahagia dimasa tua hari-hari Paduka.
Maafkan kata-kata saya yang tak sopan ii Paduka, tapi sungguh lebih tak sopan jika Paduka memaksakan, akan banyak yang tersakiti dengan anggaran miliaran yang paduka habiskan, tapi tak ada hasil yang sungguh memuaskan.
Paduka, dari hati yang paling dalam, jika paduka tetap maju dan memaksakan, saya berdoa dan berharap para pemuda dan mahasiswa akan berdemonstrasi hingga paduka gagal dikukuhkan.
Senin, 16 Desember 2018 harus benar-benar akhir dari Jabatan Paduka. Semoga.
Note :Telah dipublikasikan pada tanggal 6 Desember 2018 melului WhatsApp





No comments:
Post a Comment